Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai bahwa kepastian kebijakan pajak akan menjadi salah satu faktor paling menentukan dalam menarik investasi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Di tengah perubahan lanskap perdagangan internasional, investor kini dinilai lebih mempertimbangkan stabilitas regulasi dibandingkan sekadar insentif fiskal.
Pandangan tersebut disampaikan Pendiri sekaligus Ekonom Senior INDEF, Prof. Didik J. Rachbini, yang menekankan bahwa fungsi kebijakan perpajakan telah berkembang jauh melampaui perannya sebagai sumber penerimaan negara. Menurutnya, sistem pajak kini menjadi instrumen strategis untuk memperkuat daya saing ekonomi, menciptakan iklim investasi yang sehat, serta mendukung pembangunan nasional secara berkelanjutan.
Didik menjelaskan bahwa meningkatnya proteksionisme, penerapan tarif perdagangan, serta fragmentasi ekonomi global membuat koordinasi antarnegara di kawasan Asia-Pasifik semakin penting. Kondisi tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam 17th Annual Asia-Pacific Tax Forum (APTF) 2026, yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas arah kebijakan perpajakan di masa depan.
Global Minimum Tax Ubah Persaingan Investasi
Dalam forum tersebut, INDEF menyoroti implementasi Global Minimum Tax melalui skema Pillar Two, yang dinilai telah mengubah pola persaingan investasi antarnegara. Dengan adanya kebijakan tersebut, pemberian insentif pajak tidak lagi menjadi faktor utama dalam menarik investasi asing apabila tidak didukung oleh kondisi ekonomi yang kuat.
Menurut Didik, investor saat ini lebih memperhatikan kualitas infrastruktur, kepastian regulasi, ketersediaan tenaga kerja yang kompeten, kemampuan transfer teknologi, serta kekuatan rantai pasok domestik sebelum mengambil keputusan investasi.
Ia menilai pemberian insentif fiskal tanpa perbaikan terhadap faktor-faktor fundamental tersebut berisiko mengurangi penerimaan negara tanpa menghasilkan peningkatan investasi, produktivitas, maupun penciptaan lapangan kerja yang signifikan.
Reformasi Pajak Perlu Ikuti Perkembangan Ekonomi Digital
Selain membahas investasi, INDEF juga menekankan pentingnya modernisasi administrasi perpajakan seiring berkembangnya ekonomi digital.
Menurut Didik, pembaruan sistem perpajakan tidak hanya bertujuan meningkatkan penerimaan negara, tetapi juga harus memberikan kepastian hukum bagi pelaku usaha serta menekan biaya kepatuhan yang selama ini menjadi tantangan bagi dunia bisnis.
Dengan sistem administrasi yang lebih efisien dan transparan, pemerintah diharapkan mampu menciptakan lingkungan usaha yang lebih kondusif sekaligus meningkatkan tingkat kepatuhan wajib pajak.
Pajak Hijau Harus Dibarengi Keadilan Sosial
Forum APTF 2026 juga membahas pemanfaatan instrumen fiskal untuk mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon. INDEF menilai kebijakan seperti pajak karbon dan berbagai insentif fiskal hijau dapat mempercepat investasi pada teknologi ramah lingkungan.
Namun, implementasinya perlu mempertimbangkan kesiapan sektor industri serta dampaknya terhadap kelompok masyarakat berpendapatan rendah. Menurut Didik, transisi menuju ekonomi hijau harus dilakukan secara adil agar tidak menimbulkan beban ekonomi baru maupun memperlebar kesenjangan sosial.
Dorong Kolaborasi Perpajakan Asia-Pasifik
Dalam kesempatan tersebut, INDEF juga melakukan pembahasan bersama Malaysian Association of Tax Accountants (MATA) mengenai pentingnya memperkuat kerja sama perpajakan di kawasan Asia-Pasifik.
Deputy President MATA, Tn. Hj. Taqiyuddin Amini Abdul Satar, menilai forum APTF 2026 menunjukkan semakin besarnya kebutuhan kolaborasi regional dalam menghadapi tantangan perpajakan global. Menurutnya, kerja sama lintas negara diperlukan untuk meningkatkan kepastian kebijakan, menghindari persaingan pajak yang merugikan, serta menjaga daya saing investasi kawasan.
INDEF berharap hasil forum tersebut dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan yang konkret sehingga sistem perpajakan di kawasan Asia-Pasifik semakin adaptif terhadap dinamika ekonomi global dan mampu mendukung pertumbuhan yang inklusif, berkelanjutan, serta berdaya saing tinggi.
Shama is a Content Specialist, News Writer, and PR Professional with over 4.5+ years of experience in digital publishing, journalism, press release writing, and SEO content development. She specializes in business, technology, blockchain, cryptocurrency, finance, and corporate communications, creating well-researched and engaging content for media platforms, brands, and global audiences. Throughout her career, she has contributed to news articles, press releases, industry reports, and thought leadership content, helping organizations communicate complex ideas with clarity and credibility. Her work is driven by a commitment to accuracy, research, and delivering valuable insights that inform and engage readers.








