Universitas Indonesia (UI) memperkenalkan budidaya ikan nila air payau kepada masyarakat Pulau Pramuka, Kelurahan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Utara, sebagai upaya menciptakan peluang ekonomi baru bagi warga pesisir. Program ini diharapkan menjadi solusi bagi nelayan yang kerap menghadapi keterbatasan aktivitas melaut akibat cuaca dan perubahan kondisi lingkungan.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, UI memberikan pelatihan sekaligus pendampingan mengenai teknik budidaya ikan nila yang dapat dikembangkan di wilayah pesisir dengan karakteristik air payau. Inisiatif tersebut dirancang untuk mendukung usaha perikanan yang lebih adaptif sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat setempat.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat UI, Dr. Filia, mengatakan perubahan iklim dan kondisi cuaca yang semakin tidak menentu membuat sebagian nelayan kesulitan memperoleh penghasilan secara konsisten. Karena itu, budidaya ikan nila air payau dinilai dapat menjadi alternatif usaha yang berkelanjutan tanpa sepenuhnya bergantung pada hasil tangkapan di laut.
Teknologi Budidaya Disesuaikan dengan Wilayah Pesisir
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai berbagai aspek teknis budidaya, mulai dari pengaturan tingkat salinitas air, kepadatan penebaran benih, pengelolaan pakan, hingga pemantauan kualitas air agar pertumbuhan ikan berlangsung optimal.
Menurut Filia, metode budidaya yang diperkenalkan telah disesuaikan dengan kondisi lingkungan Pulau Pramuka sehingga lebih mudah diterapkan oleh masyarakat. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus meminimalkan risiko kegagalan usaha.
Ia juga menjelaskan bahwa ikan nila yang dibudidayakan di lingkungan air payau memiliki keunggulan berupa pertumbuhan yang relatif cepat dengan masa panen sekitar tiga hingga empat bulan. Selain itu, ikan nila air payau dinilai memiliki cita rasa yang lebih gurih dibandingkan ikan nila yang dibesarkan di perairan tawar.
Kembangkan Budidaya Berbasis Media Galon
Sebagai bagian dari inovasi yang dikembangkan, tim pengabdian masyarakat UI memperkenalkan model budidaya menggunakan media galon, yang dirancang khusus untuk wilayah dengan keterbatasan lahan seperti Pulau Pramuka.
Model tersebut memungkinkan masyarakat membudidayakan ikan dalam skala rumah tangga tanpa memerlukan kolam berukuran besar. Dengan biaya yang relatif lebih terjangkau, sistem ini diharapkan dapat menjadi pilihan bagi warga yang ingin memulai usaha perikanan secara mandiri.
Pelaksanaan program juga melibatkan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di bidang perikanan dan kelautan, Dedy Yaniharto, bersama peneliti, mahasiswa, serta alumni Universitas Indonesia. Kolaborasi tersebut bertujuan memastikan materi pelatihan didukung oleh hasil riset dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat pesisir.
Warga Sambut Positif Peluang Usaha Baru
Kegiatan pelatihan diikuti oleh warga Pulau Pramuka, anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Hijau Lestari, serta pengurus RT. Selain memperoleh materi teori, peserta juga dikenalkan langsung pada praktik budidaya ikan nila salin menggunakan media galon sebagai solusi untuk kawasan dengan ruang budidaya yang terbatas.
Ketua RT 03/05 Pulau Pramuka, Nurlela, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, inovasi yang diperkenalkan UI membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, terutama ketika musim angin atau cuaca buruk membuat nelayan tidak dapat melaut.
Dengan adanya pelatihan ini, masyarakat diharapkan mampu mengembangkan usaha budidaya ikan nila air payau secara berkelanjutan sehingga dapat menjadi sumber pendapatan tambahan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pesisir di Kepulauan Seribu.



