Perlawanan Islam di Irak (Islamic Resistance in Iraq), koalisi yang menaungi sejumlah milisi pro-Iran, memutuskan menunda rencana aksi balasan terhadap pasukan Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi. Keputusan tersebut diumumkan pada Jumat (7/8) setelah kelompok itu mempertimbangkan seruan dari para pemimpin politik Syiah di Irak.
Penundaan itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional pascaserangan udara gabungan AS dan Arab Saudi pada akhir Juli yang menargetkan sejumlah lokasi milik Pasukan Mobilisasi Rakyat (Popular Mobilization Forces/PMF). Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 20 orang dan memicu ancaman pembalasan dari kelompok-kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Iran.
Dalam pernyataan resminya, Perlawanan Islam di Irak menyebut keputusan untuk menahan aksi militer diambil sebagai bentuk respons terhadap imbauan para tokoh politik Syiah. Meski demikian, kelompok tersebut tidak menjelaskan berapa lama penundaan itu akan berlangsung maupun apakah ancaman balasan telah dibatalkan sepenuhnya.
Sebelumnya, kelompok tersebut mendesak pemerintah Irak agar mengambil langkah diplomatik maupun tindakan keamanan yang tegas menyusul serangan udara pada 29 Juli. Mereka bahkan memberikan tenggat waktu kepada pemerintah untuk menunjukkan sikap resmi, dengan ancaman akan melakukan serangan jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi.
Ketegangan semakin meningkat setelah Arab Saudi pada 27 Juli mengumumkan telah mencegat drone yang disebut mengarah ke fasilitas minyaknya. Menyusul insiden itu, Riyadh bersama Washington melancarkan operasi udara yang diklaim menyasar sejumlah target PMF di Irak.
Amerika Serikat selama ini diketahui terus berupaya membatasi aktivitas kelompok-kelompok milisi yang memiliki kedekatan dengan Iran di wilayah Irak. Langkah tersebut menjadi bagian dari kebijakan keamanan Washington di kawasan Timur Tengah yang masih diwarnai rivalitas dengan Teheran.
Sementara itu, pemerintah Irak menyatakan belum menemukan bukti yang mengonfirmasi bahwa drone yang menuju wilayah Arab Saudi benar-benar diluncurkan dari wilayah Irak. Pernyataan tersebut menunjukkan masih adanya perbedaan pandangan mengenai asal-usul serangan yang menjadi pemicu eskalasi terbaru.
Dengan keputusan menunda aksi balasan, situasi keamanan di Irak untuk sementara berada dalam kondisi lebih terkendali. Namun, perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada langkah diplomatik pemerintah Irak serta dinamika hubungan antara AS, Arab Saudi, dan kelompok-kelompok bersenjata yang beroperasi di negara tersebut.
Penulis konten lifestyle dan hiburan yang senang membahas tren budaya populer dan gaya hidup modern.

