UEA Serukan Deeskalasi Konflik dan Kelancaran Selat Hormuz - BeritaSatuWorld.com

UEA Serukan Deeskalasi Konflik dan Kelancaran Selat Hormuz

Uni Emirat Arab (UEA) menyerukan penurunan ketegangan di kawasan Timur Tengah serta menjamin kelancaran rantai pasokan melalui Selat Hormuz. Abu Dhabi menilai jalur pelayaran strategis tersebut harus tetap dapat digunakan sesuai ketentuan hukum internasional.

Menteri Negara UEA Khalifa Shaheen Al Marar menyampaikan sikap tersebut dalam pidatonya pada Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat. Ia mengatakan kawasan tersebut sedang menghadapi perubahan besar dan perpecahan sehingga upaya meredakan ketegangan diperlukan.

Seruan itu disampaikan ketika konflik regional masih berkaitan dengan perang yang bermula setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Iran kemudian melancarkan serangan balasan terhadap Israel serta sejumlah lokasi di kawasan, termasuk wilayah UEA.

Situasi semakin rumit setelah Amerika Serikat kembali menyerang Iran dan muncul perselisihan mengenai pelayaran di Selat Hormuz. Kondisi tersebut turut memengaruhi pembahasan antara Washington dan Teheran, meskipun kedua negara sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada pertengahan Juni.

Al Marar menegaskan UEA mempertahankan pendekatan moderat dengan menolak kekerasan dan ekstremisme. Pemerintahnya juga menyatakan ingin memperkuat kerja sama dengan negara kawasan dan mitra internasional untuk membangun stabilitas serta mencegah perpecahan.

Selain isu keamanan, Al Marar menyampaikan kesiapan UEA menjadi tuan rumah Konferensi Air PBB 2026 bersama Senegal. Abu Dhabi mengajak negara lain berpartisipasi dalam forum tersebut yang akan membahas persoalan air, perubahan iklim, dan ketahanan pangan.

Menurut dia, konferensi tersebut diharapkan menghasilkan langkah praktis untuk memperkuat ketahanan air menghadapi berbagai tantangan.

Dalam pidatonya, Al Marar juga menyinggung perang di Sudan. Ia menyerukan penghentian konflik dan menegaskan bahwa tidak boleh ada pihak yang menentukan masa depan Sudan secara sepihak.

Perang antara tentara Sudan dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) telah berlangsung sejak April 2023. Konflik tersebut menyebabkan puluhan ribu orang meninggal dan sekitar 13 juta lainnya terpaksa mengungsi berdasarkan perkiraan PBB dan organisasi internasional.

Pemerintah Sudan sebelumnya menuduh UEA memberikan dukungan kepada RSF, tetapi tuduhan tersebut berulang kali dibantah Abu Dhabi.

Website |  + posts

Penulis berita internasional yang mengikuti perkembangan politik dan hubungan global secara aktif.

More From Author

Aleksandar Vucic Mundur, Serbia Siapkan Pemilu Presiden - BeritaSatuWorld.com

Aleksandar Vucic Mundur, Serbia Siapkan Pemilu Presiden

Kemendes Dorong Lomba Desa 2026 Sebarkan Praktik Baik - BeritaSatuWorld.com

Kemendes Dorong Lomba Desa 2026 Sebarkan Praktik Baik